GADIS PANTAI
Tanggal 6 Mei 2007, saya bersama suami mengunjungi pameran Buku, Di Senayan.
Saya boleh dibilang suka baca sedikit. Saya membeli beberapa Karangan Pramoedya Ananta Toer, memang boleh dibilang telat gitu loo. tapikan tak pernah basi.
Saya tertarik untuk membaca buku yang berjudul Gadis Pantai. Saya benar-benar terhipnotis untuk terus membaca sampai tamat. Dan terus terang setelah selesai baca, saya shock, bagaimana mungkin wanita bisa diperlakukan sebegitu hinanya. Dan itu terjadi di Jaman Kartini, dimana Kartini bisa dikatakan jauh lebih beruntung dibanding naSib Gadis Pantai , jauh lebih terpuruk. Saya sempat tidak bisa tidur, benar-benar geram. Tapi saya pelan-pelan berpikir bahwa itu masa lalu. Saya kagum kepiawaian Pramoedya Ananta Toer dalam menulis dan menyusun tiap kata dalam buku ini. Dan konon kabarnya beliau kenal dengan tokoh tersebut.
Ini memang masa lalu yang gelap untuk wanita, dan aku bersyukur sekarang wanita benar-benar bebas menentukan pilihan. Walaupun banyak juga yang kebablasan.
Saya merinding membaca buku ini, dan saya menyalin ringkasan dibelakang buku ini tanpa menambah ataupun mengurangi:
Gadis Pantai lahir dan tumbuh di sebuah kampung nelayan di Jawa Tengah, Kabupaten Rembang. Seorang gadis yang manis. Cukup manis untuk memikat hati pembesar santri setempat; seorang Jawa yang bekerja pada ( administrasi ) Belanda. Dia diambil menjadi gundik pembesar tersebut dan menjadi Mas Nganten: perempuan yang melayani “Kebuasan Kebutuhan” seks pembesar sampai kemudian pembesar memutuskan untuk menikah dengan perempuan yang sekelas atau sederajat dengannya
Mulanya, perkawinan itu memberi prestise baginya di kampung halamannya karena dia dipandang telah dinaikkan derajatnya, menjadi Bendoro Putri. Tapi itu tidak berlangsung lama. Ia terperosok kembali ketanah Orang Jawa yang telah memilikinya, tega membuangnya setelah dia melahirkan seorang bayi perempuan.
Roman ini menusuk feodalisme Jawa yang tak memiliki adab dan jiwa kemanusiaan tepat langsung di jantungnya yang paling dalam.
__________________________________________________
Pramoedya Ananta Toer memang benar-benar berani.
